Keringat di Atas Bakat
Satu persen bakat, sembilan puluh sembilan persen keringat. Motto perjuangan hidup, modifikasi dari Thomas A. Edison itu masih saya yakini. Ketenaran, kebesaran dan kekayaan orang tua masuk dalam yang satu persen, walaupun harus tetap disyukuri. Namun, pernghargaan tertinggi saya tujukan kepada keringat. Dalam Muktamar Luar Biasa (MLB) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Parung 30 April -1 Mei 2008 lalu, 11 Dewan Pengurus Wilayah mencalonkan saya sebagai ketua Umum. Karena lebih menghargai Ali Masykur Musa yang lebih dulu berkeringat, saya memutuskan mundur dari pencalonan. Muktamirin pun saya harapkan untuk mendukung beliau.
Padahal sebelumnya beberapa pihak menilai, “pembersihan” di tubuh partai besutan PBNU ini oleh Gus Dur adalah upaya untuk memuluskan jalan saya yang berambisi menjadi ketua umum PKB. Fitnah itu disebar oleh orang-orang yang “menyimpan bangkai” di PKB. Ketika Gus Dur sudah mencium aromanya, mereka pun dipecat. Tapi, karena mereka tidak berani menyerang Gus Dur, maka sayalah yang dijadikan sasaran tembak.
Perempuan sebagai Penengah Konflik Sosial
Dalam berbagai proses politik, peran perempuan kerap masih dianggap sebagai pelengkap. Pandangan demikian berimplikasi pada kurang dilibatkannya perempuan dalam, misalnya, upaya penyelesaian konflik sosial yang marak di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Padahal, kalau kita membaca sejarah dan fakta politik di Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu, perempuan telah menjadi kekuatan sangat penting dalam setiap upaya menyelesaikan konflik, baik konflik antar-kerajaan di masa lalu, maupun konflik politik antar-elit pada masa pasca kemerdekaan. Denys Lombard dalam Silang Nusa Jawa bahwa mencatat bahwa kaum perempuan di Indonesia memegang peranan penting dan sangat menonjol dalam setiap struktur masyarakat, bahkan kedudukannya lebih tinggi daripada perempuan di masyarakat Asia lainnya.
Mengapa perempuan Indonesia, khususnya perempuan Jawa, bisa mempunyai pengaruh yang sedemikian besar?
Ada beberapa faktor mendasar yang bisa dikemukakan. Pertama, perempuan dalam posisinya sebagai ibu adalah pembentuk jiwa setiap orang sehingga kekuasaan yang dimilikinya bisa mempengaruhi pikiran dan ruang batin yang paling dalam dari setiap manusia. Ali Shariati menyatakan ibu mempunyai peranan yang paling awal dan utama dalam membentuk kepribadian seseorang. Karena ibu adalah yang memberikan kepadanya struktur dan dimensi ruhaniah. Ia dengan penuh kasih sayang, membelai dan menyusuinya. Ibu pula yang memelihara ruhani dan menanamkan pendidikan awal kepada setiap manusia. Setelah ibu baru ayah yang memberi dimensi lain pada ruhani sang anak, sekolah, masyarakat atau lingkungan, dan kebudayaan umum masyarakat maupun kebudayaan dunia secara global.
Posted May 26th, 2008
Categories: Perempuan
Tags: Ibu Peduli
Ketidakadilan Pemerintah
Two wrongs do not make one right. Dua kesalahan (ketidakadilan) tidak bisa menciptakan satu kebenaran.
Adagium tersebut tampaknya sangat tepat diterapkan dalam menilai langkah pemerintah yang telah berencana menaikkan harga BBM sebesar 30 persen akhir Mei ini.
Argumen pemerintah yang getol disuarakan adalah subsidi BBM hanya dinikmati orang mampu. Jadi, kelompok penentang rencana pemerintah menaikkan harga BBM pasti berpihak kepada orang kaya.
Benarkah Demikian?
Subsidi BBM memang banyak dinikmati oleh orang yang mampu. Salah satu ukurannya, kepemilikan kendaraan bermotor di Indonesia yang menurut catatan mencapai angka 8 juta orang. Kalau diasumsikan satu keluarga berjumlah empat orang, artinya ada sekitar 32 juta orang yang diuntungkan karena harga BBM subsidi. Di tengah penderitaan jutaan rakyat miskin, yang bahkan untuk makan tiga kali sehari saja tidak mampu, jelas ini merupakan ketidakadilan.
Namun, apakah kemudian menaikkan harga BBM menjadi penawar bagi ketidakadilan tersebut?
Jawabnya, tidak.
Kisah Raju Dari Langkat

Sebuah peristiwa yang mengusik rasa keadilan diberitakan salah satu koran nasional, Rabu (22/2/2006). Seorang anak berusia 8 tahun bernama Muhammad Azwar alias Raju harus ditahan dalam penjara sejak 19 Januari hingga 2 Februari 2006 di Rutan Pangkalan Brandan.
Perkara awalnya sebenarnya cukup sepele. Raju berkelahi dengan kakak kelasnya Armansyah 14 tahun, Rabu 31 Agustus 2005. Keduanya sama-sama terluka. Namun orangtua Armansyah mengadukan Raju kepada polisi. Anak bungsu pasangan Sugianto dan Saedah itu pun disangka melakukan penganiayaan. Hingga perkaranya sampai ke meja hijau dan hakim Tiurmaida H. Pardede di Pengadilan Negeri Stabat Cabang Pangkalan Brandan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara memutuskan menahan bocah itu di Rutan.
Islam dan Paradoks Modernitas di Indonesia
Islam mengalami masa kemunduran pada saat peradaban Barat berada dalam puncak kejayaannya. Sejak abad ke-19, sebagian besar dunia Islam diduduki oleh negara-negara Barat. Dalam suasana kemunduran itulah gerakan modernisme Islam muncul. Gerakan ini ditandai secara kuat oleh keyakinan bahwa kejayaan Islam akan bisa diraih kembali jika umat Islam kembali kepada al-Quran dan Hadis dan ajaran-ajaran yang asli. Karenanya, modernisme pemikiran Islam dalam praktiknya adalah purifikasi ajarannya.
Ini sebenarnya merupakan kerangka berpikir yang paradoks. Keinginan untuk menjadi modern (sebagaimana yang dicapai Barat) ditopang oleh keyakinan tentang pentingnya kembali kepada ajaran Islam yang asli. Tidak mengherankan jika dalam jangka panjang kita melihat bahwa modernisme Islam justru melahirkan banyak penyimpangan dalam pemikiran dan gerakannya. Sejarah menunjukkan bahwa gerakan fundamentalisme Islam justru menjadi anak kandung dari modernisme Islam. Demikian juga terorisme dan bentuk-bentuk radikalisme yang lain.
Posted April 30th, 2008
Categories: Pluralisme
Tags: islam. paradoks, modernitas

