Zannuba Wahid Website

We cannot make the world safe for democracy unless we also make the world safe for diversity - Aga Khanquote

Keringat di Atas Bakat

Satu persen bakat, sembilan puluh sembilan persen keringat. Motto perjuangan hidup, modifikasi dari Thomas A. Edison itu masih saya yakini. Ketenaran, kebesaran dan kekayaan orang tua masuk dalam yang satu persen, walaupun harus tetap disyukuri. Namun, pernghargaan tertinggi saya tujukan kepada keringat. Dalam Muktamar Luar Biasa (MLB) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Parung 30 April -1 Mei 2008 lalu, 11 Dewan Pengurus Wilayah mencalonkan saya sebagai ketua Umum. Karena lebih menghargai Ali Masykur Musa yang lebih dulu berkeringat, saya memutuskan mundur dari pencalonan. Muktamirin pun saya harapkan untuk mendukung beliau.

Padahal sebelumnya beberapa pihak menilai, “pembersihan” di tubuh partai besutan PBNU ini oleh Gus Dur adalah upaya untuk memuluskan jalan saya yang berambisi menjadi ketua umum PKB. Fitnah itu disebar oleh orang-orang yang “menyimpan bangkai” di PKB. Ketika Gus Dur sudah mencium aromanya, mereka pun dipecat. Tapi, karena mereka tidak berani menyerang Gus Dur, maka sayalah yang dijadikan sasaran tembak.

Read the rest of this entry »

Posted June 2nd, 2008
Categories: Journal, Politik

Tags: , , ,

Kisah Raju Dari Langkat

Sebuah peristiwa yang mengusik rasa keadilan diberitakan salah satu koran nasional, Rabu (22/2/2006). Seorang anak berusia 8 tahun bernama Muhammad Azwar alias Raju harus ditahan dalam penjara sejak 19 Januari hingga 2 Februari 2006 di Rutan Pangkalan Brandan.

Perkara awalnya sebenarnya cukup sepele. Raju berkelahi dengan kakak kelasnya Armansyah 14 tahun, Rabu 31 Agustus 2005. Keduanya sama-sama terluka. Namun orangtua Armansyah mengadukan Raju kepada polisi. Anak bungsu pasangan Sugianto dan Saedah itu pun disangka melakukan penganiayaan. Hingga perkaranya sampai ke meja hijau dan hakim Tiurmaida H. Pardede di Pengadilan Negeri Stabat Cabang Pangkalan Brandan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara memutuskan menahan bocah itu di Rutan.

Read the rest of this entry »

Posted May 5th, 2008
Categories: Journal

Tags: , ,

Derita Korban Banjir Babelan

Neng, kita yang di kampung lebih susah,” seorang Ibu mengadukan nasibnya kepada saya dengan suara tercekat menahan tangis. Dia memprotes bantuan pemerintah dan warga masyarakat yang hanya dicurahkan untuk korban banjir di Jakarta.

Padahal rumahnya, beserta ratusan rumah desa Desa Hurip Jaya, Babelan, Bekasi lainnya masih digenangi air selutut orang dewasa. Sejauh mata memandang, hamparan sawah dan kebun mereka diselimuti banjir.

“Ini masih lumayan. Kemaren bisa segini,” kata Ibu itu sambil menepuk dadanya. Saya terenyuh, delapan hari banjir menenggelamkan rumah mereka, tapi masih bisa mengatakan ’lumayan’. Kenikmatan yang sedikit memang lebih bisa disyukuri, oleh orang-orang yang lama menderita.

Penderitaan itu juga tampak di raut ratusan warga Desa Hurip Jaya yang saya temui di Masjid Istiqomah, Kampung Cabang Empat, Desa Hurip Jaya, Babelan, Kamis (8/2/2007). Saya merasa bencana ini begitu menyengsarakan mereka, terutama kaum Ibu dan anak-anak.

Read the rest of this entry »

Posted April 24th, 2008
Categories: Journal

Tags: , ,