Zannuba Wahid Website

We cannot make the world safe for democracy unless we also make the world safe for diversity - Aga Khanquote

Islam dan Paradoks Modernitas di Indonesia

Islam mengalami masa kemunduran pada saat peradaban Barat berada dalam puncak kejayaannya. Sejak abad ke-19, sebagian besar dunia Islam diduduki oleh negara-negara Barat. Dalam suasana kemunduran itulah gerakan modernisme Islam muncul. Gerakan ini ditandai secara kuat oleh keyakinan bahwa kejayaan Islam akan bisa diraih kembali jika umat Islam kembali kepada al-Quran dan Hadis dan ajaran-ajaran yang asli. Karenanya, modernisme pemikiran Islam dalam praktiknya adalah purifikasi ajarannya.

Ini sebenarnya merupakan kerangka berpikir yang paradoks. Keinginan untuk menjadi modern (sebagaimana yang dicapai Barat) ditopang oleh keyakinan tentang pentingnya kembali kepada ajaran Islam yang asli. Tidak mengherankan jika dalam jangka panjang kita melihat bahwa modernisme Islam justru melahirkan banyak penyimpangan dalam pemikiran dan gerakannya. Sejarah menunjukkan bahwa gerakan fundamentalisme Islam justru menjadi anak kandung dari modernisme Islam. Demikian juga terorisme dan bentuk-bentuk radikalisme yang lain.

Read the rest of this entry »

Posted April 30th, 2008
Categories: Pluralisme

Tags: ,

Islam, Politik dan Pluralisme di Indonesia

Meskipun selalu dalam kondisi yang sulit dipersatukan, Islam tetap menjadi fitur dan unsur penting dalam politik di Indonesia. Islam yang berkembang di Indonesia pada masa awal sesungguhnya merupakan manifestasi keberagamaan yang moderat dan toleran terhadap tradisi, kultur dan berbagai bentuk kepercayaan masyarakat yang ada. Dengan manifestasi seperti itu tidak heran jika Islam sangat mudah diterima oleh masyarakat dan perkembangan Islam di kawasan ini berjalan sangat cepat.

Manifestasi seperti itu bisa dipahami karena Islam yang masuk ke Indonesia pada masa awal atau gelombang pertama adalah Islam yang bercorak sufistik. Para sejarawan menyebutkan pada masa awal Islam berkembang sebagai aktivitas para sufi (Taufik Abdullah, 1991: 20). Islam menonjolkan dimensi spiritualitas dan membebaskan manusia dari belenggu simbol, ritualisme, atau bentuk-bentuk formalisme yang lain. Dalam konsep para sufi, Islam hadir dalam nilai-nilai universal yang bersifat melampaui syariat. Islam yang dikembangkan para sufi dengan sendirinya lebih terbuka, moderat dan toleran.

Read the rest of this entry »

Posted April 23rd, 2008
Categories: Pluralisme, Politik

Tags: , , , ,