Keringat di Atas Bakat
Satu persen bakat, sembilan puluh sembilan persen keringat. Motto perjuangan hidup, modifikasi dari Thomas A. Edison itu masih saya yakini. Ketenaran, kebesaran dan kekayaan orang tua masuk dalam yang satu persen, walaupun harus tetap disyukuri. Namun, pernghargaan tertinggi saya tujukan kepada keringat. Dalam Muktamar Luar Biasa (MLB) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Parung 30 April -1 Mei 2008 lalu, 11 Dewan Pengurus Wilayah mencalonkan saya sebagai ketua Umum. Karena lebih menghargai Ali Masykur Musa yang lebih dulu berkeringat, saya memutuskan mundur dari pencalonan. Muktamirin pun saya harapkan untuk mendukung beliau.
Padahal sebelumnya beberapa pihak menilai, “pembersihan” di tubuh partai besutan PBNU ini oleh Gus Dur adalah upaya untuk memuluskan jalan saya yang berambisi menjadi ketua umum PKB. Fitnah itu disebar oleh orang-orang yang “menyimpan bangkai” di PKB. Ketika Gus Dur sudah mencium aromanya, mereka pun dipecat. Tapi, karena mereka tidak berani menyerang Gus Dur, maka sayalah yang dijadikan sasaran tembak.
Ketidakadilan Pemerintah
Two wrongs do not make one right. Dua kesalahan (ketidakadilan) tidak bisa menciptakan satu kebenaran.
Adagium tersebut tampaknya sangat tepat diterapkan dalam menilai langkah pemerintah yang telah berencana menaikkan harga BBM sebesar 30 persen akhir Mei ini.
Argumen pemerintah yang getol disuarakan adalah subsidi BBM hanya dinikmati orang mampu. Jadi, kelompok penentang rencana pemerintah menaikkan harga BBM pasti berpihak kepada orang kaya.
Benarkah Demikian?
Subsidi BBM memang banyak dinikmati oleh orang yang mampu. Salah satu ukurannya, kepemilikan kendaraan bermotor di Indonesia yang menurut catatan mencapai angka 8 juta orang. Kalau diasumsikan satu keluarga berjumlah empat orang, artinya ada sekitar 32 juta orang yang diuntungkan karena harga BBM subsidi. Di tengah penderitaan jutaan rakyat miskin, yang bahkan untuk makan tiga kali sehari saja tidak mampu, jelas ini merupakan ketidakadilan.
Namun, apakah kemudian menaikkan harga BBM menjadi penawar bagi ketidakadilan tersebut?
Jawabnya, tidak.
Membangun (Kembali) Kesadaran Kritis Mahasiswa
Bangsa ini, meski sudah merdeka lebih dari setengah abad dan kelas terdidiknya semakin banyak, tetap saja berjalan tanpa memiliki “ruang batin” dan kapasitas kritis untuk menyeleksi dan memaknai berbagai hal baru yang datang dari luar maupun yang muncul dari dalam. Yang ada hanya kapasitas rasionalisasi, legitimasi dan keterpaksaan untuk selalu menyesuaikan diri.
Kesadaran tentang hak asasi manusia (HAM), demokrasi dan globalisasi misalnya, secara umum relatif tidak menyentuh hakikat kepentingan manusia sebagai individu dan bangsa secra kolektif. Karena kesadaran itu lebih sebatas prosedur-prosedur, etika atau persepsi tentang itu semua sebagai “hukum alam” dan karenanya menjadi keharusan sejarah. Tidak ada kesadaran kritis yang melampaui “smoke screen” (HAM, demokrasi dan globalisasi sebagai contoh adalah “tabir asap”), sehingga kita bisa melihat fakta, kepentingan dan agenda tersembunyi di balik wacana itu.
Posted April 30th, 2008
Categories: Politik
Tags: indonesia, mahasiswa, pergerakan
Islam, Politik dan Pluralisme di Indonesia
Meskipun selalu dalam kondisi yang sulit dipersatukan, Islam tetap menjadi fitur dan unsur penting dalam politik di Indonesia. Islam yang berkembang di Indonesia pada masa awal sesungguhnya merupakan manifestasi keberagamaan yang moderat dan toleran terhadap tradisi, kultur dan berbagai bentuk kepercayaan masyarakat yang ada. Dengan manifestasi seperti itu tidak heran jika Islam sangat mudah diterima oleh masyarakat dan perkembangan Islam di kawasan ini berjalan sangat cepat.
Manifestasi seperti itu bisa dipahami karena Islam yang masuk ke Indonesia pada masa awal atau gelombang pertama adalah Islam yang bercorak sufistik. Para sejarawan menyebutkan pada masa awal Islam berkembang sebagai aktivitas para sufi (Taufik Abdullah, 1991: 20). Islam menonjolkan dimensi spiritualitas dan membebaskan manusia dari belenggu simbol, ritualisme, atau bentuk-bentuk formalisme yang lain. Dalam konsep para sufi, Islam hadir dalam nilai-nilai universal yang bersifat melampaui syariat. Islam yang dikembangkan para sufi dengan sendirinya lebih terbuka, moderat dan toleran.
Posted April 23rd, 2008
Categories: Pluralisme, Politik
Tags: indonesia, islam, NU, Pluralisme, Politik

