Zannuba Wahid Website

We cannot make the world safe for democracy unless we also make the world safe for diversity - Aga Khanquote

Derita Korban Banjir Babelan

Neng, kita yang di kampung lebih susah,” seorang Ibu mengadukan nasibnya kepada saya dengan suara tercekat menahan tangis. Dia memprotes bantuan pemerintah dan warga masyarakat yang hanya dicurahkan untuk korban banjir di Jakarta.

Padahal rumahnya, beserta ratusan rumah desa Desa Hurip Jaya, Babelan, Bekasi lainnya masih digenangi air selutut orang dewasa. Sejauh mata memandang, hamparan sawah dan kebun mereka diselimuti banjir.

“Ini masih lumayan. Kemaren bisa segini,” kata Ibu itu sambil menepuk dadanya. Saya terenyuh, delapan hari banjir menenggelamkan rumah mereka, tapi masih bisa mengatakan ’lumayan’. Kenikmatan yang sedikit memang lebih bisa disyukuri, oleh orang-orang yang lama menderita.

Penderitaan itu juga tampak di raut ratusan warga Desa Hurip Jaya yang saya temui di Masjid Istiqomah, Kampung Cabang Empat, Desa Hurip Jaya, Babelan, Kamis (8/2/2007). Saya merasa bencana ini begitu menyengsarakan mereka, terutama kaum Ibu dan anak-anak.

”Saya cuma bisa membantu seadanya. Mudah-mudahan makanan jadi dan pembalut wanita cukup,” kata saya kepada mereka.

Walau sedikit bantuan yang saya salurkan itu membuat mereka gembira. Lurah Desa Hurip Jaya HM Sahil menurunkan 200 paket yang saya bawa dari Jakarta.

Saya sampaikan kepada Pak Lurah, bantuan ini memang tidak seberapa, tapi saya berjanji akan ada bantuan susulan. ”Hari Minggu kita akan kirim tim kesehatan untuk mengobati masyarakat sekitar Hurip Jaya,” saya meyakinkan Pak Lurah.

Janji itu harus saya lunasi. Semua kolega, terutama dokter dan para medis, akan saya mintakan bantuan untuk warga desa ini. Desa ini memang langganan banjir, karena lokasinya yang dekat muara Sungai Bekasi dan Sungai Canal Bekasi Laut (CBL). Namun saat musim kemarau, tanah desa menjadi tandus. Bahkan kebutuhan air bersih warga sehari-hari dipasok dari luar dan ditempatkan di tangki-tangki air di pinggir jalan.

Walau relatif dekat, sekitar 20 km, dari Kota Bekasi, tapi air setinggi ban mobil yang masih menggenangi jalan memperlambat waktu tempuh. Ditambah jalan yang melintasi kecamatan itu pun dipenuhi lubang. Persoalan ini menambah derita warga daerah itu. Padahal di Kecamatan Babelan ini berdiri sumur-sumur milik Pertamina yang menyemburkan minyak mentah dan gas bumi.

Namun, hasil tambang yang ditemukan pada 2003 dalam jumlah besar ini seperti tak membawa manfaat bagi warga dan wilayah Babelan.

Posted April 24th, 2008
Categories: Journal

Tags: , ,

No Comments Yet

Be the first one to write a comment

Leave a comment

Some HTML are OK.