Keringat di Atas Bakat
Satu persen bakat, sembilan puluh sembilan persen keringat. Motto perjuangan hidup, modifikasi dari Thomas A. Edison itu masih saya yakini. Ketenaran, kebesaran dan kekayaan orang tua masuk dalam yang satu persen, walaupun harus tetap disyukuri. Namun, pernghargaan tertinggi saya tujukan kepada keringat. Dalam Muktamar Luar Biasa (MLB) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Parung 30 April -1 Mei 2008 lalu, 11 Dewan Pengurus Wilayah mencalonkan saya sebagai ketua Umum. Karena lebih menghargai Ali Masykur Musa yang lebih dulu berkeringat, saya memutuskan mundur dari pencalonan. Muktamirin pun saya harapkan untuk mendukung beliau.
Padahal sebelumnya beberapa pihak menilai, “pembersihan” di tubuh partai besutan PBNU ini oleh Gus Dur adalah upaya untuk memuluskan jalan saya yang berambisi menjadi ketua umum PKB. Fitnah itu disebar oleh orang-orang yang “menyimpan bangkai” di PKB. Ketika Gus Dur sudah mencium aromanya, mereka pun dipecat. Tapi, karena mereka tidak berani menyerang Gus Dur, maka sayalah yang dijadikan sasaran tembak.
Sejak setahun sebelum MLB pun saya sudah menjelaskan, “Saya masih terlalu muda. Keringat saya di partai belum terlalu banyak,” kata saya kepada pers di Surabaya. Jika tiba-tiba saya menjadi ketua umum PKB, itu berarti saya tidak bisa mengukur diri. “Tapi, saya tidak apa-apa kalau difitnah seperti itu. Saya terima. Nanti waktu yang akan membuktikannya,” kata saya ketika itu. Saya berpendapat PKB memiliki banyak kader yang lebih pantas. Kami masih punya Effendi Choirie, Ali Masykur Musa dan Anisah Mahfud. Mereka itu kader-kader yang pengabdiannya lebih lama dan mereka berada di PKB sejak awal.
Sikap serupa saya sampaikan ketika PKB mencari Plt/Pjs Ketua Umum. “Yang pasti saya tidak bersedia jadi Plt atau Pjs Ketua Umum DPP PKB. Karena, saya ingin keringatan dulu di posisi sekjen. Artinya, saya mau kerja dulu,” kata saya kepada Persda Network.
Bahkan jauh sebelum itu, saya juga menolak ketika akan dimasukkan daftar calon legislatif PKB untuk Pemilu 2004. Alasan saya, masih banyak kader PKB yang sudah lama menunggu giliran. Sekali lagi saya menyadari masih belum banyak berkeringat bagi partai. Lucunya, yang dulu ngotot agar saya masuk daftar calon adalah orang-orang yang kini memfitnah saya. Saat terpilih sebagai Sekretaris Jenderal PKB dalam Rapat Pleno DPP pada 25 Mei 2007, rumor adanya KKN dilontarkan. Padahal faktanya, Gus Dur memilih Anisa Mahfudz -namun perserta (lebih) memilih saya.
Setelah terpilih sebagai sekjen, kendati tidak ada peraturan yang melarang rangkap jabatan, demi kehidupan politik Indonesia yang sehat dan agar lebih fokus di salah satu bidang, pada 15 Juni 2007 saya resmi mengundurkan diri dari Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi Politik yang saya emban sejak Januari 2006. Sulit bagi saya untuk merangkap jabatan, karena tidak akan adil bagi keduanya. Untuk mengabdi pada masyarakat tidak perlu berada di Istana. Justru, dengan menjadi sekjen, kerigat saya lebih bermakna bagi orang banyak.


Leave a comment