Membangun (Kembali) Kesadaran Kritis Mahasiswa
Bangsa ini, meski sudah merdeka lebih dari setengah abad dan kelas terdidiknya semakin banyak, tetap saja berjalan tanpa memiliki “ruang batin” dan kapasitas kritis untuk menyeleksi dan memaknai berbagai hal baru yang datang dari luar maupun yang muncul dari dalam. Yang ada hanya kapasitas rasionalisasi, legitimasi dan keterpaksaan untuk selalu menyesuaikan diri.
Kesadaran tentang hak asasi manusia (HAM), demokrasi dan globalisasi misalnya, secara umum relatif tidak menyentuh hakikat kepentingan manusia sebagai individu dan bangsa secra kolektif. Karena kesadaran itu lebih sebatas prosedur-prosedur, etika atau persepsi tentang itu semua sebagai “hukum alam” dan karenanya menjadi keharusan sejarah. Tidak ada kesadaran kritis yang melampaui “smoke screen” (HAM, demokrasi dan globalisasi sebagai contoh adalah “tabir asap”), sehingga kita bisa melihat fakta, kepentingan dan agenda tersembunyi di balik wacana itu.
Posted April 30th, 2008
Categories: Politik
Tags: indonesia, mahasiswa, pergerakan
Derita Korban Banjir Babelan
“Neng, kita yang di kampung lebih susah,” seorang Ibu mengadukan nasibnya kepada saya dengan suara tercekat menahan tangis. Dia memprotes bantuan pemerintah dan warga masyarakat yang hanya dicurahkan untuk korban banjir di Jakarta.
Padahal rumahnya, beserta ratusan rumah desa Desa Hurip Jaya, Babelan, Bekasi lainnya masih digenangi air selutut orang dewasa. Sejauh mata memandang, hamparan sawah dan kebun mereka diselimuti banjir.
“Ini masih lumayan. Kemaren bisa segini,” kata Ibu itu sambil menepuk dadanya. Saya terenyuh, delapan hari banjir menenggelamkan rumah mereka, tapi masih bisa mengatakan ’lumayan’. Kenikmatan yang sedikit memang lebih bisa disyukuri, oleh orang-orang yang lama menderita.
Penderitaan itu juga tampak di raut ratusan warga Desa Hurip Jaya yang saya temui di Masjid Istiqomah, Kampung Cabang Empat, Desa Hurip Jaya, Babelan, Kamis (8/2/2007). Saya merasa bencana ini begitu menyengsarakan mereka, terutama kaum Ibu dan anak-anak.
Islam, Politik dan Pluralisme di Indonesia
Meskipun selalu dalam kondisi yang sulit dipersatukan, Islam tetap menjadi fitur dan unsur penting dalam politik di Indonesia. Islam yang berkembang di Indonesia pada masa awal sesungguhnya merupakan manifestasi keberagamaan yang moderat dan toleran terhadap tradisi, kultur dan berbagai bentuk kepercayaan masyarakat yang ada. Dengan manifestasi seperti itu tidak heran jika Islam sangat mudah diterima oleh masyarakat dan perkembangan Islam di kawasan ini berjalan sangat cepat.
Manifestasi seperti itu bisa dipahami karena Islam yang masuk ke Indonesia pada masa awal atau gelombang pertama adalah Islam yang bercorak sufistik. Para sejarawan menyebutkan pada masa awal Islam berkembang sebagai aktivitas para sufi (Taufik Abdullah, 1991: 20). Islam menonjolkan dimensi spiritualitas dan membebaskan manusia dari belenggu simbol, ritualisme, atau bentuk-bentuk formalisme yang lain. Dalam konsep para sufi, Islam hadir dalam nilai-nilai universal yang bersifat melampaui syariat. Islam yang dikembangkan para sufi dengan sendirinya lebih terbuka, moderat dan toleran.
Posted April 23rd, 2008
Categories: Pluralisme, Politik
Tags: indonesia, islam, NU, Pluralisme, Politik
Jejak Ratu Kalinyamat: Melacak Akar-akar Kepemimpinan Perempuan di Indonesia
Kepemimpinan perempuan di Indonesia memiliki sejarah dan akar budaya yang kokoh dalam tradisi masyarakat Nusantara sejak berabad-abad yang lampau. Jika sekarang sada sejumlah tokoh agama (Islam) yang mengharamkan perempuan menjadi pemimpin (presiden), maka perlu diteliti dan dipahami konteksnya. Perbedaan penafsiran adalah soal yang biasa. Karena itu, fatwa ulama yang mengharamkan kepemimpinan perempuan dengan sendirinya akan di-counter oleh fatwa yang membolehkannya.
Menurut KH Abdurrahman Wahid (1989), dalam negara yang secara fiqih termasuk dalam ketegori “negara damai” (dar as-sulh) seperti Indonesia, tidak ada pihak yang bisa memaksakan fatwa kepada umat, termasuk MUI. Karena itu, tidak perlu dilakukan upaya penawaran fatwa secara berlebih-lebihan dan demonstratif, karena akan muncul fatwa lain yang berseberangan atau sikap lain yang tidak difatwakan, seperti sikap diam masyarakat.
Posted April 20th, 2008
Categories: Perempuan
Tags: indonesia, kalinyamat, kepimpinan, Perempuan

