Derita Korban Banjir Babelan
“Neng, kita yang di kampung lebih susah,” seorang Ibu mengadukan nasibnya kepada saya dengan suara tercekat menahan tangis. Dia memprotes bantuan pemerintah dan warga masyarakat yang hanya dicurahkan untuk korban banjir di Jakarta.
Padahal rumahnya, beserta ratusan rumah desa Desa Hurip Jaya, Babelan, Bekasi lainnya masih digenangi air selutut orang dewasa. Sejauh mata memandang, hamparan sawah dan kebun mereka diselimuti banjir.
“Ini masih lumayan. Kemaren bisa segini,” kata Ibu itu sambil menepuk dadanya. Saya terenyuh, delapan hari banjir menenggelamkan rumah mereka, tapi masih bisa mengatakan ’lumayan’. Kenikmatan yang sedikit memang lebih bisa disyukuri, oleh orang-orang yang lama menderita.
Penderitaan itu juga tampak di raut ratusan warga Desa Hurip Jaya yang saya temui di Masjid Istiqomah, Kampung Cabang Empat, Desa Hurip Jaya, Babelan, Kamis (8/2/2007). Saya merasa bencana ini begitu menyengsarakan mereka, terutama kaum Ibu dan anak-anak.

