Membangun (Kembali) Kesadaran Kritis Mahasiswa
Bangsa ini, meski sudah merdeka lebih dari setengah abad dan kelas terdidiknya semakin banyak, tetap saja berjalan tanpa memiliki “ruang batin” dan kapasitas kritis untuk menyeleksi dan memaknai berbagai hal baru yang datang dari luar maupun yang muncul dari dalam. Yang ada hanya kapasitas rasionalisasi, legitimasi dan keterpaksaan untuk selalu menyesuaikan diri.
Kesadaran tentang hak asasi manusia (HAM), demokrasi dan globalisasi misalnya, secara umum relatif tidak menyentuh hakikat kepentingan manusia sebagai individu dan bangsa secra kolektif. Karena kesadaran itu lebih sebatas prosedur-prosedur, etika atau persepsi tentang itu semua sebagai “hukum alam” dan karenanya menjadi keharusan sejarah. Tidak ada kesadaran kritis yang melampaui “smoke screen” (HAM, demokrasi dan globalisasi sebagai contoh adalah “tabir asap”), sehingga kita bisa melihat fakta, kepentingan dan agenda tersembunyi di balik wacana itu.
Posted April 30th, 2008
Categories: Politik
Tags: indonesia, mahasiswa, pergerakan

